Jelang Peringatan Hari Buruh 1 Mei Menghimbau Orang Tua Waspadai Ancaman Gangster Anarko pada Pelajar

MMJnews

SEMARANG – Menjelang peringatan Hari Buruh pada 1 Mei mendatang, masyarakat khususnya para orang tua diimbau untuk meningkatkan pengawasan terhadap putra-putrinya yang masih duduk di bangku SMA/SMK.

Hal ini menyusul adanya potensi keterlibatan pelajar dalam kelompok yang mengatasnamakan “gangster anarko” yang kerap memanfaatkan momentum aksi massa.

Direktur Lembaga Konsultasi Bantuan Hukum (LKBH) Barisan Pejuang Keadilan sekaligus Direktur Eksekutif Pengamat Sosial, Hukum, dan Politik Indonesia (PSHPI), Adi Setiawan, SH, menegaskan bahwa fenomena ini bukan sekadar kenakalan remaja biasa, melainkan dapat berujung pada konsekuensi hukum serius yang berdampak panjang bagi masa depan anak.

Menurutnya, di era digital saat ini, setiap aktivitas di ruang publik sangat mudah terekam. Kamera pengawas (CCTV) maupun dokumentasi warga dapat menjadi alat bukti yang sah dalam proses penegakan hukum.

“Jejak digital tidak bisa dihapus. Sekali anak terlibat dalam aksi kekerasan dan terekam, hal itu dapat digunakan untuk identifikasi oleh aparat penegak hukum,” ujarnya.
Selain itu, risiko hukum juga semakin berat apabila pelajar kedapatan membawa senjata tajam. Berdasarkan Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951, tindakan tersebut termasuk pelanggaran serius dengan ancaman hukuman hingga 10 tahun penjara.

Tidak hanya berdampak secara hukum, keterlibatan dalam aksi anarkis juga berpotensi menimbulkan konsekuensi administratif. Pelajar yang terlibat dapat memiliki catatan dalam Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) yang akan mempersulit mereka saat melamar pekerjaan, khususnya di perusahaan besar, BUMN, maupun saat mendaftar sekolah kedinasan.

Dari sisi pendidikan, sekolah juga memiliki kewenangan untuk menjatuhkan sanksi tegas, mulai dari pembinaan hingga pengeluaran (drop out) bagi siswa yang terbukti terlibat dalam tindakan yang merugikan masyarakat.

Adi Setijawan mengajak seluruh orang tua untuk lebih aktif mengawasi pergaulan anak, termasuk aktivitas di media sosial dan penggunaan gadget. Ia juga mengimbau agar anak-anak tidak berada di luar rumah hingga larut malam tanpa pengawasan.

“Jangan sampai rasa solidaritas yang keliru justru menghancurkan masa depan anak-anak kita. Peran keluarga sangat penting dalam mencegah mereka terjerumus ke dalam lingkungan yang salah,” pungkasnya.

(Red)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *